Pura Besakih Di Karang Asem – Pura Termegah Dan Terbesar Di Bali

Pulau Bali memang terkenal dengan keindahan pesisir pantainya. Namun, terdapat objek wisata yang tidak kalah terkenal yang wajib kamu kunjungi ketika berada di Bali. Ya, objek wisata ini adalah Pura Besakih yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Karangasem. Sejarah Pura Besakih menjadi cerita masyarakat lokal secara turun temurun dan menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Perjalanan Sejarah Pura Besakih

Jika melihat catatan sejarah, adanya Pura Agung Besakih dipelopori oleh Rsi Markendaya. Siapakah beliau? Beliau adalah tokoh penting dalam agama Hindu yang berasal dari India, namun sudah menetap lama di Jawa. Beliau juga terkenal sebagai seorang pendeta Hindu Siwa Tawta.

Awal Mula Cerita

Dalam perjalanannya di Nusantara, beliau pertama kali menginjakkan kakinya sekitar awal abad 8 Masehi. Tempat yang pertama kali beliau kunjungi adalah Dieng, Jawa Tengah. Pada saat itu Dieng merupakan wilayah kerajaan Mataram Kuno yang dipimpin oleh Raja Wangsa Sanjaya.

Karena beliau adalah orang yang rajin bertapa, maka beliau juga melakukan tapa di daerah Dieng ini. Akan tetapi, ritualnya diganggu oleh makhluk halus yang berada dalam wilayah tersebut. Pada akhirnya beliau memutuskan untuk berjalan ke arah Timur dan berakhir lereng Gunung Raung.

Pada saat bertapa di Gunung Raung, beliau mendapatkan wahyu yang berasal dari suara ghaib dan muncul sinar terang dari arah Timur. Melihat adanya cahaya terang, beliau memutuskan untuk melihat sekelilingnya. Dari atas Gunung Raung terlihat deretan pegunungan yang berdampingan dari Barat ke Timur.

Cahaya tersebut ternyata berakhir di ujung Timur pulau Jawa, yang mana saat ini kita kenal dengan pulau Bali. Ketika itu sebagian besar pelaut berfikir bahwa pulau Bali menyatu dengan Nusa Tenggara dan Markendeya Puran.

Pulau tersebut terkenal dengan nama Nusa Dawa atau pulang panjang. Suara ghoib itulah yang kemudian menuntun beliau untuk merambah hutan yang ada di Pulau Nusa Dawa. Beliau diminta untuk menyusuri hutan tersebut dari arah Selatan ke arah Utara.

Memulai Perjalanan dan Kegagalan

Perjalanan sejarah Pura Besakih dimulai dari sini. Setelah mendapatkan wahyu tersebut, beliau kemudian mengunjungi pulau Bali melalui perjalanan laut dan diikuti oleh 400 orang pengikutnya. Sesampainya di Bali, beliau langsung menuju nama tempat yang dibisikkan ketika bertapa. Adapun tempat yang dimaksud adalah Gunung Toh Langkir atau sekarang lebih dikenal sebagai Gunung Agung.

Pada saat itu, hutan Gunung Agung sangatlah menyeramkan dan tidak ada tanda-tanda kehidupan disekitarnya. Rsi Markandeya tetap melanjutkan perjalanannya, rencananya akan dimulai dengan membuat jalan, kemudian membuat lahan yang digunakan sebagai area pertanian nantinya. Akan tetapi, dalam perjalanan tersebut beliau mengalami kegagalan.

Kegagalan tersebut disebabkan oleh banyaknya pengikut yang meninggal yang disebabkan oleh terserang penyakit, kalah oleh binatang buas hingga beberapa kali kejadian misterius diluar nalar. Sebagai pertapa sekaligus seorang yogi, Rsi Markandeya menyadari bahwa ada aura negatif dan kekuatan besar yang menguasai pulau itu.

Wahyu Kedua

Setelah kegagalan tersebut, Rsi Markandeya kemudian kembali ke Gunung Raung untuk bertapa dan meminta petunjuk kepada Tuhan. Selang beberapa waktu bertapa, beliau kemudian mendapatkan wahyu kedua. Wahyu kedua ini meminta beliau untuk melaksanakan upacara Yadnya sebelum kembali ke Gunung Agung.

Beliau kemudian menggelar upacara tersebut dengan 400 orang pengikut barunya yang berasal dari Desa Aga. Desa Aga adalah salah satu desa yang berada di kaki Gunung Agung. Ritual tersebut diawali dengan mecaru dan memasukkan 5 macam logam atau panca Datu ke dalam kendi.

Logam tersebut terdiri atas emas, perak, perunggu, tembaga dan besi. Tidak sampai disitu saja, beliau juga memasukkan batu permata atau Mirah Adi kedalamnya. Tujuannya adalah agar dalam melakukan perjalanan kedua nanti dapat berjalan dengan lancar tanpa ada bencana apapun.

Keberhasilan

Ritual upacara yang dilakukan Rsi Markandeya ternyata berhasil dan mereka menyelesaikan merambah hutan lereng Agung tersebut. Atas dasar dari sejarah inilah umat Hindu sekarang selalu melakukan ritual upacara Yadnya sebelum meresmikan lahan baru. Baik itu akan digunakan untuk membangun rumah, dijadikan sawah ataupun untuk membangun pura.

Rsi Markandeya merasa hasil perjalanan mereka sudah cukup dan tanah yang berhasil dikuasainya kemudian dibagikan secara merata kepada pengikutnya. Beliau yang saat itu berada di ketinggian Gunung Agung menyadari suatu hal yang penting.

Bahwasanya pulau Dawa ternyata tidak sepanjang yang dia lihat sebelumnya. Oleh karena itulah beliau kemudian mengganti namanya menjadi “Bali” yang diambil dari kata “wali”. Kata tersebut diambil dari bahasa Palawa asal India yang artinya persembahan suci. Keberhasilan ini menjadi penanda sejarah Pura Besakih akan segera berakhir.

Sejarah Nama Pura Besakih

Wilayah Tong Langkir yang telah dikuasai tersebut mulai dikembangkan oleh masyarakat yang tinggal disekitarnya, kemudian oleh Rsi Markandeya diberi nama Basuki. Dalam bahasa sansekserta mengandung makna Wasuki atau keselamatan. Lambat laun dan faktor pergantian zaman, pelafalan Basuki kemudian berubah menjadi Besakih.

Adapun tempat upacara dan penanaman 5 logam atau Panca Datu dan batu permata disebut sebagai Pura Besakih. Pada mulanya pura ini bernama Besukian, akan tetapi setelah mengalami pembangunan dan perkembangan yang cukup besar kemudian beralih menjadi Pura Besakih.

Pura inilah yang selanjutnya dikenal sebagai pura termegah dan terbesar di Bali. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sejarah Pura Besakih memiliki kaitan dengan awal kedatangan Rsi Markendeya di Bali.

Tiket dan Operasional

Bagi wisatawan yang ingin mengunjungi Pura Besakih, akan dikenakan biaya masuk. Biaya tiket masuk Pura Besakih relatif murah, hanya berkisar Rp. 15.000,00 / orang. Apabila menggunakan kendaraan bermotor, akan dikenakan biaya parkir sebesar Rp. 2.000,00 dan mobil sebesar Rp. 5.000,00.* (harga tiket dapat berubah sewaktu-waktu)

Jam operasional dari Pura Besakih adalah setiap hari, dimulai dari pukul 08.00 – 17.00 WITA. Namun, jika wisatawan beragama Hindu dan hendak melakukan ritual sembahyang, bisa memasukinya selama 24 jam.

Daya Tarik Pura Besakih

Masyarakat Bali menyebut Pura Besakih sebagai mother temple. Komplek Pura Besakih yang mulanya hanya area kecil kemudian dikembangkan dan dibangun banyak sekali pura untuk upacara adat. Setiap objek wisata tentunya memiliki daya tarik masing-masing, begitu pula dengan Pura Besakih ini. Adapun daya tariknya adalah :

Didaulat Sebagai Pura Terbesar

Pura Besakih didaulat sebagai pura terbesar di Indonesia mengingat banyaknya pura yang dibangun dalam areal yang sangat luas. Dalam kompleks yang berjumlah 18 ini ini terdapat 23 pura utama, disusul dengan 202 bangunan besar dan kecil. Bangunan yang terdapat dalam kompleks ini dibangun dalam 6 tingkatan yang menyerupai terasering sawah.

Peninggalan Megalitikum

Karena Rsi Markendaya datang ke Bali sekitar abad ke-8, pura ini menjadi salah satu bukti peninggalan era megalitikum. Bukti ini dapat dilihat dari arsitektur yang masih disekitar kompleks. Konsep pembangunan pura ini mengusung tema Tri Hita Karana yang merupakan konsep kuno. Sebuah konsep hubungan keterikatan antara alam, manusia dan Sang Pencipta.

Sejarah Pura Besakih sangatlah panjang dan memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Bali, khususnya mereka yang beragama Hindu. Kondisi ini tidak luput dari perjuangan Rsi Markendaya dalam menuntaskan misinya.

Tinggalkan komentar